Gerhana Matahari Cincin Jadi Objek Wisata, Ritual Tolak Bala Mulai Memudar - Jempana

Selasa, 24 Desember 2019

Gerhana Matahari Cincin Jadi Objek Wisata, Ritual Tolak Bala Mulai Memudar

Munculnya gerhana matahari cincin biasanya disambut oleh warga Melayu (Kota Batam) dengan ritual dan doa tolak bala. Ritual itu dilakukan dengan melakukan salat gerhana. Namun, hingga kini tradisi menggelar salat gerhana dan doa tolak bala agaknya memudar seiring perkembangan zaman.

Gerhana Matahari (Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst)
Sebagai Rukun Khasanah Warisan Batam, Machmur Ismail hingga kini belum mengetahui adanya informasi kampung mana yang akan menggelar salat gerhana matahari dan tolak bala.

Selain itu, biasanya warga Melayu Kota Batam menggelar ritual sesuai dengan syariat islam dan tidak melakukan ritual seperti menghanyutkan barang-barang ke laut atau sejenisnya.

Fenomena yang kabarnya akan terjadi pada 26 Desember 2019 itu, disambut berbeda oleh pelaku usaha dan pemerintah Kota Batam. Berita Antara melaporkan, kolobarasi kedua pihak memanfaatkan gerhana matahari cincin menjadi objek wisata, dan membuka pintu selebar-lebarnya kepada wisatawan dalam negeri atau mancanegara.

Bahkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam mengamini hal itu. Ia dengan terbuka mengatakan harga paket wisata dijual bagi wisatawan. Dan Pulau Galang direkomendasikan sebagai spot (lokasi) terbaik untuk menyaksikan fenomena alam yang terjadi dalam satu atau dua tahun sekali itu.

Ya, meskipun dalam keterangannya Disbudpar juga menggelar lokakarya dengan cara memberi edukasi kepada masyarakat atau wisatawan yang akan hadir di sana nantinya, akan tetapi tradisi salat gerhana dan doa tolak agaknya mulai sirna karena (mungkin) telah berubah menjadi objek pariwisata.

Tata Cara Salat Gerhana 


Padahal, saat terjadi gerhana matahari, umat islam dianjurkan untuk melakukan salat kusuf. Salat ini dilakukan dua rakaat dengan empat rukuk. Dikutip dari situs web Kemenag, tata cara mengerjakan salat kusuf adalah sebagai berikut.


  • Berniat di dalam hati
  • Takbiratul ihram seperti salat biasa
  • Membaca doa iftitah dan bertaawuz, kemudian membaca Surah Al-Fatihah dan membaca surat yang panjang dengan dikeraskan (jahr) suaranya
  • Rukuk dengan waktu yang lama
  • Bangkit dari rukuk (iktidal)
  • Setelah Iktidal, tidak langsung sujud, tetapi membaca Surah Al-Fatihah dan Surah panjang. Surah yang dibaca saat berdiri yang kedua ini, lebih pendek daripada saat berdiri sebelum rukuk. 
  • Rukuk kembali (rukuk kedua) yang panjangnya lebih pendek dari rukuk sebelumnya; Bangkit dari rukuk (iktidal)
  • Sujud yang lamanya seperti rukuk, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali; Bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama dengan bacaan dan gerakan yang lebih singkat; Tasyahud; dan 
  • Salam.


Setelah melukan salat, jemaah mendengarkan khotbah shalat gerhana yang disampaikan imam. Isinya, anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan amal kebaikan lain.

Niat Salat Gerhana


Niat salah gerhana dalam situs web NU, niat mengerjakan salat gerhana dapat dilafalkan baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Arab. Jika menggunakan bahasa Arab, maka lafalnya tergantung apakah kita menjadi imam atau makmum dalam salat tersebut.

 أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى

"Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi imaaman/makmuman lillali ta'ala" 

Artinya: 
"Saya berniat mengerjakan salat sunah Gerhana Matahari sebagai imam/makmum karena Allah semata". 

Lalu bagaimana pandangan Anda sendiri tentang fenomena gerhana matahari cincin ini, apakah Anda akan menyaksikannya melalui objek pariwisata atau menyambut gerhana matahari cincin dengan melakukan salat gerhana?

Loading...

Bagikan artikel ini

Loading...
Silakan tulis komentar Anda