Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengenal Maskulinitas secara Benar



Sosok Dilan didalam buku Dilan 1990 maupun film yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan, diangap oleh sebagian wanita sebagai sosok maskulin sejati.  Sosok dilan yang bad boy, supermanis kepada perempuan, superhero dan sebagainya membuat wanita tergila-gila dan menginkan semua laki-laki adalah dilan-nya. Lain pula dari pihak laki-laki bahwa penulis yakin maskulin terdapat di sosok  Genji Takiya dalam film Crows Zero, atau Yuda, Rama yang diperankan oleh Iko uwais dalam film The Raid. Sosok Genji yang Bad Boy sejati, pandai berkelahi, keras, dan pertemanan adalah pilihan utama, dianggap sebagai lambang maskulin sejati. Lalu sebenarnya maskulin itu??



Menurut KBBI, maskulinitas adalah (sebuah anggapan) kejantanan seorang laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksualnya, maskulin juga dikonsepkan sebagai hal-hal tertentu yang mengaitkan laki-laki dengan peran sosial, prilaku makna-makna tertentu. Connel mengatakan bahwa maskulinitas diletakan pada relasi gender, yaitu praktik yang melibatkan laki-laki dan perempuan serta berimplikasi pada pengalaman jasmaniah, sifat dan budaya.

Menurut  Barker  maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Laki-laki tidak dilahirkan begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Hal yang menentukan sifat perempuan dan laki-laki adalah kebudayaan. Secara umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai antara kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja. Diantara yang dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal, kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan anak-anak.   Beynon (2007) mendefinisikan maskulin merupakan laki-laki yang terlihat sangat “kebapakan”, sebagai penguasa dalam keluarga, dan sosok yang mampu memimpin perempuan serta membuat keputusan yang utama. Connell (2000) mendefinisikan maskulinitas sebagai bentuk praktik gender yang merupakan konstruk sosial, maskulinitas mengacu pada tubuh laki-laki secara langsung maupun simbolis yang bukan ditentukan oleh biologis laki-laki. Menurut Kimmell (2005) maskulinitas adalah sekumpulan makna yang selalu berubah tentang hal-hal yang berhubungan dengan laki-laki sehingga memiliki definisi yang berbeda pada setiap individu dan waktu yang berbeda. Sedangkan Morgan (dalam Beynon, 2007) mengatakan bahwa “what is masculinity is what men and woman do rather than what they are” yang artinya maskulinitas adalah apa yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan

 Maskulinitas adalah suatu stereotype tentang laki-laki yang dapat dipertentangkan dengan feminimitas sebagai stereotype perempuan. Maskulin vs feminim adalah dua kutub sifat yang berlawanan dan membentuk suatu garis lurus yang setiap titiknya menggambarkan derajat kelaki-lakian (maskulinitas) atau keperempuanan (feminimitas). Seorang laki-laki yang memiliki karakteristik yang identik dengan stereotype maskulin disebut laki-laki maskulin, jika karakteristik berlebihan disebut laki-laki super maskulin, jika kurang disebut laki-laki kurang maskulin atau laki-laki feminim. Demikian sebaliknya, jika dibaca variasi sifat seorang perempuan. Stereotype maskulinitas dan feminimitas mencakup berbagai aspek karakteristik individu, seperti karakter atau kepribadian, perilaku peranan, okupasi, penampakan fisik, ataupun orientasi seksual. Jadi misalnya laki-laki dicirikan oleh watak yang terbuka, kasar, agresif, dan rasional, sementara perempuan bercirikan tertutup, halus, afektif, dan emosional. Dalam hubungan individu laki-laki diakui maskulinitasnya jika terlayani oleh perempuan, sementara perempuan terpuaskan feminitasnya jika dapat melayani laki-laki. Dalam hal okupasi pekerjaan yang mengandalkan kekuatan dan keberanian seperti tentara, sopir, petinju, dsb, disebut sebagai pekerjaan maskulin, sementara pekerjaan yang memerlukan kehalusan, ketelitian, dan perasaan seperti salon kecantikan, juru masak, menjahit, dsb, dinamakan pekerjaan feminim.

Sifat-sifat Maskulinitas
Sifat-sifat maskulinitas yang di kemukakan oleh David dan Brannon (dalam Demartoto, 2010) adalah sebagai berikut:
a.  No Sissy Stuff (tidak menggunakan barang-barang perempuan): seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau karakteristik yang berhubungan dengan perempuan.
b. Be a Big Wheel (menjadi tokoh atau seseorang yang penting): maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan pengaguman dari orang lain. Seseorang harus memiliki kekayaan, ketenaran, dan status yang sangat “lelaki”.
c. Be a Sturdy Oak (menjadi seseorang yang memiliki kekuatan): kelakian membutuhkan rasionalitas, kekuatan, dan kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya.
d.  Give em Hell (menunjukkan keberanian): laki-laki harus memiliki aura keberanian dan agresi, serta mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya.

Menurut Beynon (2007), mengatakan bahwa sifat-sifat maskulinitas dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. New Man as Nurturer: laki-laki memiliki kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya untuk mengurus anak, melibatkan peran penuh laki-laki dalam arena domestik.
b.  New Man as Narcissist: laki-laki menunjukkan maskulinitasnya dengan gaya hidup yuppies yang flamboyan dan perlente, laki-laki semakin suka memanjakan dirinya dengan produk-produk komersial seperti properti, mobil, pakaian atau artafek personal yang membuatnya tampak sukses.
c. Sifat kelaki-lakian yang macho, kekerasan, dan hologanism, laki-laki membangun kehidupannya disekitar football atau sepak bola dan dunia minum-minum, juga seks dan hubungan dengan para perempuan, mementingkan leisure time, bersenang-senang menikmati hidup bebas seperti apa adanya bersama teman-temannya, menonton sepak bola, minum bir, dan membuat lelucon-lelucon yang dianggap merendahkan perempuan.
d. Laki-laki metroseksual lebih mengutamakan fashion, mungkin mirip dengan tipe maskulin yang ada pada tahun 1980-an, bahkan mungkin sama dengan laki-laki metroseksual adalah orang-orang yang peduli dengan gaya hidup yang teratur, menyukai detail, dan cenderung perfeksionis.

Konsep yang identik dengan maskulinitas
Kebapakan (Fatherhood)
Salah satu stereotype maskulinitas yang penting untuk didekonstruksi adalah konsep fatherhood (kebapakan). Susan B. Murray (1996) menemukan fenomena di masyarakat Barat yang diteliti bagaimana pekerjaan merawat anak dianggap sebagai pekerjaan yang sarat gender, atau yang lebih spesifik lagi sebagai pekerjaan yang sangat feminim.
Kekerasan (violence)
Kekersan secara tradisional juga merupakan stereotype laki-laki. Kata masculine sendiri dekat dengan kata mascle (otot) yang dapat segera diasosiasikan dengan kekuatan, keprkasaan, kepahlawanan, kekerasan. Pekerjaan militer adalah pekerjaan maskulin karena pekerjaan ini sangat menekankan kekuatan, keperkasaan dan heroisme. Namun yang menarik adalah saat ketika pemerintah Amerika Serikat tengah terlibat perang Vietnam pada era 60an dan negara mewajibkan pemudanya untuk masuk tentara, sekelompok perempuan di Amerika melancarkan protes dengan menggelar spanduk berbunyi “girls say yes to guys who say no” (gadis gadis berkata ya untuk para pemuda yang berkata tidak). Protes ini menegaskan bahwa heroisme tidak lagi diartikan sebagai keberanian untuk berperang, tetapi keberanian untuk menolak perang. Laki-laki sejati adalah laki-laki yang cinta damai.

Di Indonesia sendiri perkembangan Ada yang bilang bahwa Monumen Nasional (Monas) yang berdiri tegak di jantung kota metropolitan Jakarta adalah simbol kejantanan laki-laki. Perancang bangunan itu sendiri, Presiden I RI Soekarno, adalah sosok lelaki ideal dalam imajinasi orang jawa: lelalaning jagad yang sakti, tampan dan banyak istri, seperti arjuna, tokoh pandawa dalam cerita pewayangan, yang selelu menang disetiap medan perang, dan selalu memenangkan hati setiap dewi. Presiden II RI Soeharto, adalah juga gambaran ideal lelaki jawa. Soeharto hadir dalam 32 tahun pemerintahan Orde Baru bak raja-raja yang sangat berkuasa dan kaya raya. Secara keseluruhan masyarakat Indonesia adalah masyarakat patriarkis. Sistem patriarkis di Indonesia menggejalan baik pada masyarakat yang menganut sistem keluarga patrilineal (misalnya Batak), bilateral (Jawa), maupun matrilineal (Minang). Bahwa masyarakat dengan sistem keluarga patrilineal dan bilateral bersifat patriarkis kiranya tidak sulit untuk dijelaskan. Tetapi sekilas terlihat aneh bahwa masyarakat Minang yang menganut sistem keluarga matrilineal ternyata juga bersifat patriarkis. Tetapi begitulah kenyataannya, dimasyarakat tersebut meskipun pemilikan dan pewarisan harta keluarga mengalir dari garis keturunan perempuan, pengambilan keputusan keluarga dalam banyak tidak berada pada ibu, tetapi pada ninik mamak, yaitu saudara laki-laki ibu.  Dengan demikian konsep maskulinitas ini sudah terbentuk dan mengakar di lini kehidupan bermasyarakat Indonesia, yang mana kaum feminist berusaha untuk menubah beberapa substansi yang cukup deskriminasi kaum perempuan baik dalam suara maupun tindakan. 

Berdasarkan kajian tentang maskulintas seperti diatas tersebut, tampak bahwa maskulinitas merupakan sebuah konstruksi yang dibuat oleh kebudayaan untuk mengarahkan masyarakat untuk menjadi sesuatu yang dimiliki masyarakat, dapat diperlakukan sesuai kemauan masyarakat itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
KBBI
ARIF SUGENG WIDODO, Pierre Bourdieu dan Maskulinitas diakses dari https://mitrawacana.or.id/publikasi/opini/pierre-bourdieu-dan-maskulinitas/Mahasiswa Dinus,diakses dari http://mahasiswa.dinus.ac.id/docs/skripsi/bab1/20074.pdf
MUHADJIR DARWIN, Maskulinitas: Posisi Laki laki dalam Masyarakat Patriarkis diakses dari: http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2015/02/S281_Muhadjir-Darwin_Maskulinitas-Posisi-Laki-laki-dalam-Masyarakat-Patriarkis.pdf



  






Posting Komentar untuk "Mengenal Maskulinitas secara Benar"