Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Bila Vaksin Covid-19 Ditemukan, Apakah Kita Akan Kebagian??

Ilmuan berlomba-lomba untuk dapat mendapatkan vaksin Covid-19, dan kalaupun sudah ditemukan, ada sebuah pertanyaan yang menarik: apakah kita yakin semua orang bakal kebagian?



Jawaban singkatnya pasti belum tahu. Mari kita uraikan situasi proses penemuan vaksin Covid-19 dari awal. Pada tanggal 16 maret, ada sebuah terobosan yang sangat menarik dalam upaya meramu vaksin Covid-19. Seorang ilmuan Kaiser Permanente Washingthon Research Institute di Seattle, Amerika Serikat, menyatakan bahwa mereka sudah memulai uji coba vaksin Covid-19 pada manusia. Sukarelawan ini bernama Jennifer Haller, seorang pekerja kantoran yang berusia paruh baya. Hallerr tercatat sebagai manusia pertama yang dijadiakan media uji coba.

Heller dan sekitar 44 orang lainnya secara sukarela disuntik dengan dua semple vaksin covid 19, pada uji coba Kaiser Permanente. Ke 45 orang ini dipantau selama sebulan penuh untuk memastikan bahwa vaksin ini benar benar bekerja dengan efektif. Namun demikian proses ini bukanlah suatu yang mudah

Mengembangkan vaksin untuk suatu penyakit bukanlah pekerjaan yang mudah. Proses dalam perumusan vaksin harus direvisi berulang-ulang, sampai pada tingkat keberhasilan yang tak tertangguhkan, dipastikan efektif dan efisen. Dilain sisi, vaksin juga dituntut untuk bisa diproduski secara masal, mudah dan dinyatakan aman untuk di konsumsi oleh tubuh manusia.

Poin keamanan yang menjadi sorot utama. secara prinsip vaksin adalah sebagian atau seluruh virus yang diciptakan tersebut disuntikan ke tubuh manusia, biasanya peneliti akan mencoba dalam dosis yang amat rendah terlebih dahulu, sehingga sistem imum pada tubuh bereaksi dalam mengantisipasi virus tersebut dengan memprodusi antikbodi (protect), untuk melindungi diri dari virus yang serupa. Sehingga secara teori jika tubuhmu sudah kenal dengan virus tersebut dan sudah produksi antibody sendiri, maka seharusnya tubuh akan kebal.

Maka tidak heran, jika ke 45 sukarelawan ini dipilih secara acak yaitu sekitar umur 18 tahun sampai 55 tahun, agar membantu mengembangkan vaksin tersebut supaya aman bagi semua usia. Tak heran bila pengembangan vaksin ini sebenarnya butuh waktu yang amat panjang. Misalnya vaksin untuk virus SARS saja baru dinyatakan siap pada 20 bulan setelah wabah virus tersebut mulai merembak.

Sejauh ini, dalam proses pengembangan vaksin Covid-19, ilmuan memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Keuntungannya adalah, ilmuan sudah pernah menghadapi virus seperti SARS atau MERS, yang mana firma asal AS seperti Novavax dan Moderna telah berhasil mengembangkan vaksin, dan terbukti ampuh menangulangi MERS dan SARS. Dilain sisi kekurangannya adalah, bukan sebuah rahasia lagi bahwa dunia akan terus menerus diancam pandemik, sehingga tidak heran jika pola ini akan terus berlangsung. Singkat cerita ilmuan sudah kecolongan.

Para ilmuan memang sudah punya pengetahuan dasar dan banyak pengalaman dalam menciptakan vaksin SARS atau Mers. Akan tetapi seluruh ilmuan juga tetap kebingungan dalam memprodusi vaksin Covid-19. Dr. Stanley Parlmen, adalah seorang professor mikrobiologi dan imunologi di Universitas of Lowa, menyatakan bahwa ilmuan seperti "main api". Dr Perlman menjelaskan lebih lanjut bahwa vaksin tersebut harus disentesisikan, diuji coba dengan hewan hingga beberapa kali, setelah itu baru di gunakan manusia sebagai media uji coba secara klinis. Bagi Dr Perlam, memang perkembangan teknologi dapat memacu langkah-langkah tersebut secara cepat, namun ada kemungkinan bahwa tindakan para ilmuan tersebut dapat dikatakan "grasa-grusu” dan tidak sempat memantau perkembanga serta mengevaluasi keamanan dan efektifitas vaksin secara bersama. 

Pendapat yang senada juga disampaikan olej Dr Peter Hotez dari Baylor Collage of Medicine. Beliau berkata bahawa proses uji coba pada hewan dan manusia dapat dipercepat dengan perkembangan teknologi, dibuktikan dengan melakukan ujicoba secara paraler. Namun Dr Peter menjelaskan bahwa, harus ada pengamatan keamanan, dan harus ada langkah-langkah tertentu yang menjadi harga mati., sehingga sebuah keniscayaan juga ketersediaan vaksin tersebut ada dalam waktu dekat dalam pengulangan epidemic. 

Selain itu setiap virus pasti memiliki varian yang berbeda satu sama lain, sehingga proses pengembangan dan ujicoba merupakan hal yang paling penting. Berbagai teknologi sudah dipakai dalam mengembangkan vaksin agar cepat selesai, tapi disisi lain, virus virus ini terus berkembang dan melakukan sesuatu yang baru (varian baru).

Apakah Kita Bakal Kebagian Vaksin??

Katakanlah vaksin tersebut berhasil ditemukan, dan tak ada masalah apa-apa selama pengujian. Ada beberapa pertanyaan yang akan timbul. Pertama, apakah vaksin tersebut dapat diproduksi secara massal?, dan kedua, apakah vaksin tersebut didistribusikan ke semua orang di muka bumi secara gratis?

Pakar kesehatan global Jonathan Quick dalam bukunya The End of Epidemic mengungkapkan “Biologi virus dan teknologi vaksin boleh jadi memperlambat upaya pengembangan vaksin, namun penghalang imunisasi global sesunguhnya adalah politik dan ekonomi”. Hal ini menunjukan betapa skeptisnya jonathan mengenai perbedaan idelismenya ilmuan dan pembisnis.

Hal ini bukanlah mengada-ada, menurut laporan The Guardian, mengatakan bahwa firma dan perusahaan berlomba-lomba dalam meracik vaksin Covid-19, yang mana tujuan dasarnya adalah duit (bisnis). Membuat vaksin itu merupakan investasi paling beresiko, dari sekian banyak formula vaksin, hanya segelintir yang bisa diperjual-belikan. Namun khusus untuk penemuan vaksin corona ini merupakan ladang bisnis yang sangat menguntungkan, banyak pihak yang berlomba-lomba menyumbangkan kekayaan, menawarkan hadia bahkan seorang binta porno asal rusia juga menawarkan diri kepada para ilmuan yang berhasil menemukan vaksin untuk virus corona ini. 

Akan tetapi, kalaupun ada ilmuan atau berbagai raksasa farmasi sukses mengembangkan vaksin, belum tentu vaksin terbeut bisa diproduksi secara massif dengan cepat. Misalnya saja Moderna, salah satu perusahaan bioteknologi yang berbasis di Cambridge. Perusahaan ini juga ikut lomba dalam peracikan vaksin Covid-19, yang mana mereka telah menerima dana yang cukup besar dari CEPI (Coalition fot Epidemic Preparedness Innovation) dan juga punya fasilitas produksi vaksin yang terbesar dari semua perusahaan penerima hibah CEPI. Menurut Science Mag, Moderna hanya mampu memproduksi 100 juta dosis dalam setahun.

Bayangkan hanya seratus juta, hanya sekitar kurang dari seperti populassi Indonesia, dan bayangkan penduduk-penduduk negara-negara lain, ini tidak akan cukup, jika ingin diberikan kepada semua orang, maka tidak semua orang bakal kebagian. 

Jika kita memakai pembagian sesuai protocol di Inggris, maka sesuai aturan, vaksin ini akan diprioritaskan kepada pekerja medis dan social yang mana berhadapan langsung dengan pasien Covid-19, serta orang-orang yang dianggap paling rentan secara medis, seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Sasarannya bukan memvaksinkan semua orang, namun menekan jumlah infeksi dan kematian sebisa mungkin. 

Sebuah kesenjangan social pun akan terjadi walaupun menggunakan protocol inggris yang sangat idelis tersebut. Protokol tersebut berasumsi bahwa semua negara akan mendapatkan jatah vaksin secara merata. Kenyataannya, pastilah negara-negara terkaya yang akan membeli vaksin sebanyak-banyaknya selagi negara lain masih memikirnya. The Guardian pernah melaporkan bahwa, pola serupa pernah terjadi saat pandemic flu H1N1 tahun 2009 silam. Kalau tidak percaya, kamu bisa membuktikannya sendiri. 

Balik lagi, kalaupun vaksin Covid-19 ini cepat jadi, belum tentu semua orang dapat mengaksesnya secara merata. Pastilah negara-negara terkaya bakal dapat jatah duluan, padahal seharusnya negara-negara yang sedang berkembang dan terbelakanglah yang harus mengakses vaksin ini terlebih dahulu. Secara infrakstruktur kesehatan negara-negara ini belum sekuat dan secangih negara-negara maju.

Ada satu masalah yang menjadi dasar, yaitu: benar saat ini memang banyak perusahaan dan ilmuan yang sedang berlomba-lomba membuat vaksin Covid-19, penyebabnya adalah karena wabah sedang berlangsung, banyak yang butuh, sesuai prinsip ekonomi, maka keputusan yang baik (manusiawi) sekaligus menguntungkan secara bisnis.


Tapi begini, diatas sudah disingung bahwa vaksin SARS baru jadi setelah 20 bulan wabah terjadi, maka vaksin tersebut tidaklah dikatakan sebagai obat paling ajaib yang tiba-tiba menyembuhkan semua kasus SARS di muka bumi. Vaksin SARS baru siap didistribusikan setlah wabah ini mereda. Vaksin ini lebih cenderung sebgai pencegahan agar wabah tersebuh tidak terulang, bukan sebuah solusi cepat menuntaskan wabah. Sehingga tidak mustahil nasib Covid-19 ini akan serupa.

Baiklah, hemat penulis adalah untuk menemukan vaksin yang cocok bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, dan merupakan sebuah pekerjaan yang sangat penting. Penemuan vaksin ini nantinya akan berfungsi sebagai pencegah agar wabah ini tidak terulang lagi secara massal. Namun sembari menunggu vaksin jadi, sebaiknya lakukan Social distancing, karantina hingga tes massal merupakan pekerjaan yang paling berguna dalam mengurangi penyebaran virus Covid-19 ini.


Posting Komentar untuk "Bila Vaksin Covid-19 Ditemukan, Apakah Kita Akan Kebagian??"