Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mari Mengenal Bipolar, dan Apakah Kamu Mengidapnya

Masih ingatkah dengan kasus salah satu artis Indonesia Marshanda, yang didiagnosa menderita penyakit bipolar pada tahun 2009 lalu?. Penyakit ini seringkali di landa oleh kaum-kaum muda, yang mana rawan akan depresi, stress, tuntutan lingkungan yang memaksa dan banyak lagi. Sehingga tidak jarang banyak anak-anak muda yang mengidap penyakit ini, dan parahnya tidak sadar sudah mengidapnya. Tulisan ini akan membantu anda mengenali sedikit tentang bipolar.




Bipolar adalah sebuah kondisi mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seorang yang menderita bipolar dapat merasakan perubahan emosi secara ekstrem, yaitu gejala mania (sangat senang)  dan depresif (sangat terpuruk).
Penyebab munculnya gangguan bipolar belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini merupakan dampak dari adanya ketidakseimbangan pada neurotransmitter, yakni senyawa alami yang berfungsi mengendalikan fungsi otak.
Gangguan bipolar umumnya ditandai dengan perubahan emosi yang drastis, seperti:
• Dari sangat bahagia menjadi sangat sedih.
• Dari percaya diri menjadi pesimis.
• Dari bersemangat menjadi malas beraktivitas.

Hal ini dikarenakan faktor genetik, fisik, lingkungan dan sosial. ketidakseimbangan neurotransmitter yang diduga menjadi penyebab gangguan bipolar. Maka dari itu, gejala gangguan bipolar dapat terpicu jika seseorang mengalami peristiwa traumatis, seperti Terdapat kerabat dekat yang meninggal, misalnya keluarga, putus dalam berhubungan, seperti dengan pacar atau pasangan hidup, mengalami kekerasan emosi, fisik, atau seksual.

Ciri-ciri Bipolar

Setiap fase emosi dapat berlangsung dalam hitungan minggu atau bulan. Bukan hanya pada orang dewasa, gangguan bipolar juga bisa terjadi pada anak.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan emosi yang drastis, dari mania (sangat senang) menjadi depresif (sangat terpuruk), atau pun sebaliknya. Sebelum terjadi perubahan dari satu emosi ke emosi lain, biasanya terdapat fase dimana suasana hati atau emosi pasien normal. Namun pada kasus tertentu, perubahan emosi juga dapat terjadi tanpa adanya fase normal. Tiap emosi atau gejala, baik mania mau pun depresi, dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Gejala mania yang muncul pada penderita gangguan bipolar dapat berupa:
• Merasa sangat bahagia atau senang.
• Berbicara sangat cepat, sering, dan tidak seperti keadaan normal.
• Merasa sangat bersemangat.
• Muncul rasa percaya diri yang berlebihan.
• Keinginan untuk tidur menurun.
• Tidak nafsu makan.
• Mudah terganggu.

Gejala mania juga dapat ditandai dengan munculnya pikiran untuk membuat keputusan yang buruk. Dalam hal ini, penderita gangguan bipolar bisa secara tiba-tiba melakukan hubungan seksual yang tidak sehat, menyalahgunakan NAPZA, atau melakukan hal lain yang dapat merugikan dirinya bahkan orang lain.
Sedangkan gejala depresi yang muncul pada penderita bipolar dapat berupa:
• Merasa sangat sedih dan putus asa.
• Lemas dan kurang energi.
• Sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu.
• Hilang keinginan untuk beraktivitas.
• Merasa kesepian dan tidak berguna.
• Merasa bersalah.
• Pesimis terhadap segala hal.
• Tidak nafsu makan.
• Gangguan dalam tidur seperti sulit tidur atau bangun terlalu dini.
• Delusi atau waham.
• Muncul keinginan untuk bunuh diri.

Penderita gangguan bipolar juga dapat mengalami munculnya gejala mania dan depresif secara bersamaan. Misalnya, merasa sangat bersemangat dan disaat yang bersamaan juga merasa sangat sedih. Kondisi itu disebut gejala campuran atau mixed state.

Pengobatan Gangguan Bipolar

Dalam menangani gangguan bipolar, dokter akan menganjurkan penggunaan obat atau terapi khusus. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien perlu melakukan pemeriksaan secara langsung ke dokter.
Penanganan yang dilakukan bertujuan untuk meredakan gejala yang muncul, tetapi penanganan akan membutuhkan waktu yang lama. Maka dari itu perlu kepatuhan dari pasien, dan pengawasan dari keluarga serta dokter.
Penanganan gangguan bipolar dapat dilakukan dengan pemberian obat dan psikoterapi. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien dianjurkan untuk berkonsultasi secara langsung dengan dokter.
Pemberian obat. Terdapat beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk meredakan gejala gangguan bipolar, dan masing-masingnya memiliki fungsi yang berbeda. Pasien dianjurkan untuk terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat. Beberapa obat yang biasa digunakan untuk meredakan gejala gangguan bipolar meliputi:
• Moodstabilizer, seperti lithium, lamotrigine, dan carbamazepine.
• Antikonvulsan, seperti asam valproat.
• Antipsikotik, seperti aripiprazole, olanzapine, quetiapine, dan risperidone.
• Antidepresan, seperti fluoxetine, escitalopram, dan sertraline.

Dokter juga dapat mengombinasikan 2 atau lebih jenis obat, terutama jika perubahan gejala yang dialami pasien terjadi sangat cepat. Penggunaan dan penghentian obat harus dengan anjuran dokter. Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan kondisi pasien, berpotensi menimbulkan efek samping obat dan justru membahayakan pasien.
Psikoterapi. Terdapat beberapa metode psikoterapi yang dapat digunakan dalam meredakan gejala gangguan bipolar. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Berikut metode psikoterapi yang biasa digunakan untuk menangani gejala gangguan bipolar:
• Interpersonal and social rhythm therapy (IPSRT). IPSRT merupakan metode yang terfokus pada kestabilan ritme aktivitas sehari-hari, seperti waktu untuk tidur, bangun, hingga makan. Teraturnya ritme dalam beraktivitas mampu membantu pasien untuk mengendalikan gejala gangguan bipolar.
• Cognitive behavioral therapy (CBT). Dengan CBT atau terapi perilaku kognitif ini, dokter akan membantu pasien dalam mendeteksi hal yang dapat memicu munculnya gejala gangguan bipolar, sehingga hal tersebut dapat diganti dengan sesuatu yang positif.
• Psychoeducation. Dokter akan mengedukasi pasien dengan hal-hal yang perlu diketahui terkait kondisi yang tengah diderita. Dengan begitu, pasien dapat dengan sendirinya mengidentifikasi penyebab munculnya gejala, menghindarinya, dan membuat strategi penanganan ketika gejala gangguan bipolar muncul.

Peran keluarga juga sangat dibutuhkan dalam kondisi ini. Dengan mengenal dan mengetahui cara menangani kondisi pasien, keluarga dapat membantu pasien dalam mencegah sekaligus mengendalikan munculnya gejala.
Selain beberapa metode di atas, dokter juga dapat menggunakan terapi listrik atau biasa disebut terapi elektrokonvulsif. Namun, metode ini biasanya digunakan ketika pengobatan lain tidak efektif menangani gejala yang muncul.

Baca Juga: Tomat Bisa Memperburuk Kondisi Kesehatan Penderita Penyakit Ini

Perubahan Gaya Hidup

Untuk mengurangi risiko gejala gangguan bipolar semakin buruk, penerapan pola hidup sehat dapat membantu. Beberapa contoh upaya yang dapat dilakukan adalah:
• Berhenti mengonsumsi alkohol atau NAPZA.
• Jalin hubungan yang sehat dan positif.
• Atur rutinitas yang sehat, seperti tidur yang cukup dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
• Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.



Posting Komentar untuk "Mari Mengenal Bipolar, dan Apakah Kamu Mengidapnya"