Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Menerabas Sosial Destancing Demi Cinta

Social distancing adalah sebuah langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus corona dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Menyoal Social distancing dan cinta pastinya akan berahkir dengan Rindu. 



Rindu sebuah kata yang bisa membuat siapa saja merasa sangat kebingunan. Kata yang mencerminkan gelisah, bahagia juga sedih. Menyoal rindu, ia bisa saja menjadi candu yang siap datang kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja, tak terkecuali saat wabah covid-19 sedang melanda. Seperti kata Eka Kurniawan, selayaknya dendam rindu harus terbalaskan.

Cara paling ampuh untuk membalas rindu adalah temu. Tapi sayang, nampaknya kegiatan ini adalah hal yang paling dilarang, apalagi jika kamu sedang terinfeksi covid-19, tentu saja temu adalah inginmu. Selamat merasakan rasa membuncah di dada.


Eagles, dalam lagunya yang berjudul “Love will Keep Us Alive”. Mengisahkan dua bualan paling romantis dalam sejarah manusia. Isinya berujar: “aku bersedia mati untukmu, dan mendaki gunung tertinggi untuk menemuimu. Berhasil tentu saja”.

Pastinya banyak orang yang akan mencibir kata-kata tersebut dan terkesan klise. Tapi sudah banyak kasus orang yang mau mati demi cinta. Relevansinya  sekarang, rela terinfeksi covid-19 demi berhasil untuk bertemu. Tak heran jika penderita covid-19 ini sangat menakjubkan jumlahnya, social distancing malah menimbun rasa rindu. 


Menerabas social distancing sepertinya akan terhalang pasal 212 KUHP: Barang siapa yang tidak menghindahkan petugas berwenang yang saat ini melaksanakan tugas dapat dipidana.

Tentu saja hal ini menjadi dua belah pisau, satu sisi pemerintah menginginkan pemutusan perkembangan Covid-19, disatu sisi lainnya pemerintah memasuki ranah pribadi sesorang. Ranah pribadi yang dimaksudkan adalah, hukum diciptakan untuk menciptakan kedamaian dan ketertiban, bukan untuk membatasi gerak manusia, bayangkan saja jika soarang yang berprofesi di lapangan serta kebetulan harus selalu bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, maka KUHP ini bukan saja memutuskan rantai penyebaran covid-19 namun juga memutuskan kehidupan berkeluarga, dan tentu saja sang perindu akan di penjara. 

Hemat penulis, mengutip  kata-kata R.A Kartini badai pasti berlalu maka hentikanlah menerabas sosial distancing sampai badai wabah ini berlalu. Hentikan perkataan Eka Kurniawan, bersabarlah jika rindumu belum berujung temu. Menerabas badai covid-19 demi cinta bukanlah sebagai bentuk kebenaran. 

Samakin lama memendam rindu dan ahkirnya bisa bertemu, percayalah hal ini akan membuktikan, bukan waktu yang berharga tapi moment. 

Lalu buat kamu yang menjalankan sosial distancing dengan baik dan benar hargai mereka yang tidak bisa melaksanakannya dengan baik dan benar. Cepat atau lambat sosial distancing ini akan berlalu sehingga kamu bebas untuk menerabas waktu.

Posting Komentar untuk "Menerabas Sosial Destancing Demi Cinta"